Momentum Visitasi Layanan Unggul, LKSAM Medokan Ayu Perkuat Digitalisasi dan Layanan Ramah Anak

LKSA Muhammadiyah Rungkut  – Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya menggelar visitasi dan audit internal secara serentak di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Muhammadiyah Medokan Ayu pada Selasa (13/10/2026). Kegiatan yang dihelat untuk menyemarakkan Milad ke-114 Muhammadiyah ini bukan sekadar evaluasi rutin, melainkan momentum penting untuk menegaskan transformasi tata kelola panti asuhan modern.

Berlandaskan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, pengasuhan anak tidak lagi dipandang sebatas aksi karitatif atau belas kasihan semata. LKSA Medokan Ayu berkomitmen menghadirkan layanan yang fokus pada pemenuhan hak, perlindungan, serta jaminan tumbuh kembang anak secara holistik melalui pendampingan berbasis keluarga maupun masyarakat.

Inovasi Dasbor dan Akuntabilitas Tata Kelola

Wujud nyata dari transformasi ini terlihat dari efisiensi pengelolaan lembaga berbasis teknologi. LKSA Muhammadiyah Medokan Ayu mengintegrasikan sistem digital pada tiga sektor vital, yakni bidang keuangan, tata usaha, serta pengelolaan aset dan inventaris. Ketua MPKS Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rungkut, M. Sholeh Masyhoedi, menjelaskan bahwa penerapan sistem terpadu ini sengaja dihadirkan untuk mempermudah jalur pembinaan sekaligus menjaga transparansi lembaga kepada publik.

“Guna mempermudah tugas para asesor di lapangan, pengurus telah meluncurkan sebuah dasbor khusus sesuai instrumen yang ditetapkan. Sistem ini mengintegrasikan berbagai data esensial, mulai dari profil anak asuh, struktur pengurus, hingga sebaran penerima manfaat secara terpadu,” ujar Sholeh.

Kegiatan Visitasi LKSA Unggul MPKS PDM Surabaya 2026 (Dokumentasi Internal, 2026)

Langkah proaktif tersebut mendapat tanggapan positif dari tim asesor MPKS PDM Surabaya yang terdiri dari Ustaz Mukhlisin dan Ustadzah Halimatus Djuhriah. Dalam proses evaluasi yang mencakup verifikasi dokumen, observasi lingkungan panti, hingga dialog terbuka bersama pengasuh, tim asesor menekankan krusialnya profesionalisme dalam pengelolaan lembaga sosial.

“Asesor mencoba menggunakan instrumen komprehensif untuk memotret kondisi lembaga. Meski bergerak di bidang sosial, kita harus tetap profesional. Kita dituntut untuk menuliskan apa yang kita kerjakan, dan mengerjakan apa yang kita tuliskan,” tegas Ustaz Mukhlisin di sela-sela peninjauan lapangan.

Misi Strategis dan Spirit “Sharing the Shine”

Komitmen perbaikan mutu ini dirumuskan secara komprehensif dalam draf Usulan Visi dan Misi LKSA Muhammadiyah Medokan Ayu 2026. Wakil Ketua Bidang Pembinaan Kesejahteraan Sosial PCM Rungkut, Samsul Hariyadi, memaparkan bahwa lembaga ini menargetkan diri untuk menjadi panti unggul, berkelanjutan, dan berkemajuan yang teguh berdiri di atas landasan teologi Al-Ma’un. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, dirancang tujuh langkah strategis yang mencakup pengasuhan berbasis keluarga melalui Muhammadiyah Children Center, penyediaan akses pendidikan inklusif via Muhammadiyah Rungkut Learning Center, peningkatan kapasitas Pekerja Sosial Muhammadiyah, perluasan sinergi jejaring kemanusiaan, penanaman akhlak Islami, pengembangan laboratorium kewirausahaan sosial (sociopreneurship), serta penguatan integrasi teknologi demi keterbukaan laporan publik.

“Komitmen tersebut kami rumuskan secara holistik agar lembaga ini tidak hanya menjadi panti asuhan biasa, melainkan pusat pemberdayaan anak yang profesional dan berkemajuan,” ungkap Samsul.

Seluruh ikhtiar dan cita-cita mulia LKSA Muhammadiyah Medokan Ayu dibingkai secara apik dalam sebuah moto gerakan, yakni “Sharing the Shine”. Slogan yang bermakna berbagi pencerahan ini mencerminkan semangat pengejawantahan teologi Al-Ma’un di tengah masyarakat. Filosofi “Sharing the Shine” mendapat apresiasi khusus dari Ustaz Mukhlisin karena membawa pesan pemberdayaan yang mendalam bagi kaum mustadh’afin. Melalui konsep ini, anak-anak asuh dididik dan ditempa agar kelak tidak terus-menerus menjadi penerima bantuan, melainkan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, sanggup memancarkan “cahaya” kemampuannya sendiri, dan hadir sebagai sumber pencerahan bagi masa depan generasi penerus.


Kontributor: Adistiar Prayoga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *